Dikala embun pagi masih bersemayam, waktu dimana semua santri
mengaji kitab kepada Kiyai, lantunan doa dipanjatkan sebelum mengaji dimulai. Sang
Kiyai memerintahkan semua santri untuk mendoakan kedua orang tuannya
masing-masing, berdoa untuk diri sendiri, dan untuk pondok pesantren. Semua
santri menundukkan kepala, mengosongkan pandangan, membawa diri dalam
kesunyian.
Kasih sayang orang tua kepada anak
tidak akan pernah sirna dalam kejauhan, jarak tidak menjadikan batas bagi
mereka untuk mencurahkan kasih dan sayang, untaian doa-doa dalam sujud
menyatukan mereka dengan anak-anaknya. Kasih sayang orang tua dapat dirasakan
manakala sang anak juga merasakan betapa besar pengorbanan mereka kepadanya dan
menyadari bahwa doa orang tua kepada anaknya tidak terputuskan oleh jarak yang
membentang, tidak terputuskan oleh keadaan suka atau duka.
Amel adalah santri Pondok Pesantren Baiturrahman,
setiap pagi ikut mengaji kitab kepada Kiyai, dia berusaha untuk berdoa dengan
khusyuk sebelum ngitab dimulai. Disaat sang Kiyai memerintahkan untuk mendoakan
orang tuanya, dia menunduk mengosongkan pandangan menatap cakrawala dalam kesunyian,
membawa diri untuk mengingat kedua orang tua yang sedang membanting tulang mencari
uang, untuk membiayai dirinya supaya menjadi anak yang sukses, disaat itulah
kesunyian membawanya berpikir “pantaskah kiranya aku untuk durhaka kepada orang
tuaku, tanpa orang tua mungkin aku tidak akan pernah ada didunia ini”.
Pikiran Amel semakin hampa, hanyalah
harapan dan doa yang ada dalam dirinya. Motivasi sang Kiyai membuat Amel yakin
akan apa yang dia impikan, demi membahagiakan kedua orang tuanya, dalam doanya
dia berpikir “akankah cita-citaku tercapai, kuliyah di negeri seberang,
menggapai cita yang gemilang, demi orang tuaku tersayang”, wajahnya tampak
tenang, dia memasrahkan segalanya kepada sang pencipta, karena dia yakin
segalanya bisa diraih dengan usaha dan doa.
Amel tidak hanya mendoakan kedua orang
tuanya, tapi juga meminta kepada sang kuasa supaya pondoknya diberikan
kemudahan, dilancarkan segala urusan, maju dan jaya selalu.
Writer. Nadir
