Oleh: DR. Mashuri Toha
Wakil Ketua Majelis Alumni IPNU Pamekasan
Beberapa hari yang lalu, saya
hadir di pelantikan pengurus baru IPNU-IPPNU Cabang Pamekasan di gedung
Primajaya Tlanakan, gedung itu milik pengusaha; pak Rudi, cukup representatif,
hall-nya luas, tersedia fasilitas dekorasi, manajemen lingkungan tertata indah.
Tempatnya mudah dijangkau. Gedung ini bisa bersaing dengan persewaan gedung
yang lain. Gedung milik pemerintah sudah 'tak main'.
KH. Hamid Zubair yang duduk di
sebelah saya, berbisik di telinga saya, "kapan NU bisa punya gedung
seperti ini?", Pertanyaan yang menggoda, ekspektasi yang tinggi. Ya,
setidaknya sudah punya mimpi. Tetapi, harapan memiliki gedung itu bukan tanpa
alasan. Karena NU memiliki banyak badan otonom dan lembaga. Beberapa organ di
tubuh NU ber-organisme, bergerak aktif, dinamika yang membutuhkan ruang untuk
mengelola massa. Karena NU tidak hanya hebat di depan massa, tetapi sudah harus
hebat di masa depan.
Agar hebat di masa depan, NU
butuh meramut dan merumat jamaah. Pola paguyuban di NU dipandang sebagai
potensi. Maka bisnis persewaan gedung dapat dilirik sebagai peluang ekonomi dan
dakwah. Dan kemampuan melihat jumlah nahdhiyyin sebagai kekuatan terus diasah.
Gedung pertemuan menjadi media yang efektif untuk menyapa jamaah dalam banyak
kepentingan.
Gedung yang representatif dipilih
untuk membangkitkan kebanggaan pada organisasi. Karena gedung yang luas bisa
puas mengekspresikan segala potensi untuk pentas sejuta aksi. Ego mereka berada
pada "aku ini siapa, siapa aku, ini aku dan aku ini milik siapa".
Generasi kita harus diberi panggung.
Saya lihat adik-adik kita sudah
mampu mereposisi di kelas Jawa Timur, banyak yang mewarnai di kepengurusan PW.
IPNU-IPPNU. Kita dukung star up dan scale up mereka. Karpet yang kita
bentangkan akan mengantarkan pada penemuan jati diri yang mereka cari.
"Mekar seribu, bunga di taman, mekar cintaku pada ikatan" sebagaimana
mars kita lantunkan.
Tapi jangan tinggalkan
self-marketing, ini lagi ramai dikonsumsi publik, konstruk yang baru-baru ini
mulai marak di dunia industri 4.0. Self-marketing merupakan pemasaran mandiri
yang membantu individu untuk dapat meningkatkan citra dan reputasi mereka untuk
dapat memajukan karir mereka "tuk kejayaan masa depan".
Bersamaan dengan fase egosentris.
Selera generasi kita sudah tinggi, tentu tarifnya juga tinggi. Ya, amodel
amodal. Itu menunjukkan tingginya tingkat pendidikan mereka. Pendidikan
mempengaruhi selera, dan selera mempengaruhi pola konsumsi. Jika selera orang
itu tinggi, maka konsumsi terhadap barang akan meningkat, dan sebaliknya
apabila selera orang itu rendah maka konsumsi akan rendah.
Kita bangga pada generasi yang
berstandar tinggi, hanya yang kita khawatirkan adalah selera tinggi daya pikat
rendah. IPNU-IPPNU harus memiliki nilai tawar dari added value yang mereka
bangun, proses pengkaderan melatih mereka peka terhadap situasi dan kebutuhan
lingkungan kerja, mampu memanfaatkan peluang dan tantangan, serta mampu
memberikan service excellent pada umat dan stakeholders. Untuk itu mereka harus
diberi panggung.
Kemampuan NU dan kita, untuk
meladeni proses aktualisasi diri mereka dan diikuti dengan kemampuan mereka
untuk me-marketingi diri sendiri akan membuat distribusi kader; laku keras,
berkelas, di 'pasar' nasional. 'Pasar' lokal ? Tak main.
Pamekasan, 27 Juni 2022
