Semua orang pasti ingin membahagiakan kedua orang tuanya, begitupula saya, saya ingin membehagiakan mereka.
Namaku adalah Anis Fitriyah, aku dipanggil Anis, aku adalah anak bungsu, aku tinggal bersama ibu dan kakakku didesa kecil dimana aku dilahirkan, aku ditinggalkan oleh ayahku, ayahku pergi meninggalkanku untuk semalamya sejak aku masih duduk dibangku kelas 3 SD, saat itu aku masih kecil tidak tahu apa-apa.
Waktu terus berputar, akupun lulus dari bangku SD tahun 2015. Pasca kelulusanku, ibuku bertanya padaku “Anis, setelah kamu lulus SD kamu mau melanjutkan kemana.?”. aku menjawab. “Aku mau mondok bu”. Lalu ibuku berkata “terserah kamu, ibu tidak punya apa-apa, ibu hanya seorang petani”, mendengar perkataan ibu, aku terdiam seribu bahasa melihat ibuku yang pasrah akan keadaan dalam ketidak berdayaan.
Hari demi hari kuratapi, tibalah waktunya aku untuk berangkat kepondok pesantren, rasa sedih tidak dapat aku tinggalkan, tetesan air mata tak terasa berlinang, tak sanggup hati ini meninggalkan ibu dalam kesendirian setelah ayahku ayahku tak lagi bersama ibu, namun inilah jalan yang harus aku pilih demi kebahagiaan ibu dan ayah yang telah tiada dimasa mendatang.
Pondok Pesantren Baiturrahman adalah tempat baruku, aku pertama kali mondok, sehari serasa seminggu, aku merasa tidak betah, tidak ada teman yang aku kenal, semua terasa asing, aku hanya bisa diam termenung, sesekali aku teringat pada ibu, bagaiman kiranya keadaan ibu hari ini, pertanyaan kenapa aku mondok..? terbersit dalam hati, ingin rasanya aku pulang, kembali kerumah hidup bersama ibu, menemani ibu, namun hati kecilku berkata; “aku mondok demi ibu, aku mondok demi ayah yang telah tiada, aku ingin membahagiakan orang tua” akupun ingat pesan ibu padaku saat ibu mengantarku kepondok “ Semoga Nasibmu Tidak Sama Dengan Ibumu Ini” dan sejak saat itu aku mulai sadar akan tujuanku memilih untuk mondok.
Hari demi hari berlalu penuh kegiatan dari pagi hingga malam, belajar al-quran, kitab dan keterampilan lainnya. Program takhussus baca kitab dan tahidz merupakan program pilihan yang tidak semua santri mengikutinya, hanya beberapa santri saja yang ikut, aku memilih untuk ikut program takhussus baca kitab, aku ingin sekali bisa membaca kita, lagi pula aku bersama santri lainnya ngaji kitab kepada kiyai setiap pagi, aku ingin jadi santri yang bisa membaca kitab.
Keinginanku untuk bisa membaca kitab membuat saya semakin giat untuk belajar, termasuk mengikuti kegiatan pembinaan baca kitab yang diadakan oleh pondok, dari pembinaan inilah kemudian ketua pondok akan menentukan siapa saja yang bisa mengikuti program takhussus sesuai kemampuan santri. Penentuan peserta takhussus diumumkan, aku merasa hawatir apakah saya terpilih untuk ikut program tkhussus baca kitab atau tidak.
Angin berhembus riang, wajahku berbunga-bunga, aku sangatlah gembira dapat mengikuti program takhussus baca kitab, Ustadz berkata bahwa yang terpilih sebagai peserta program takhussus akan ditampilkan nanti pada haflatul imtihan pondok yaitu pada bulan ramadlan, dimana pada saat itu semua wali santri diundang untuk menyaksikan berbagai keterampilan santri. Betapa bahagianya hatiku jika pada saat itulah aku dapat membuat ibuku bahagia melihatku bisa membaca kitab.
Waktu terus berputar, kesabaran hati terus kutempa tuk menyelami lautan api yang tiada henti membentang dalam usahaku untuk menjadi santri yang bisa membaca kitab…….
Bersambung……,
