(Alumni Santri Baiturrahman)
Di kisahkan dari seorang teman. Namanya Banding Hadi Pranata. Ia
dikenal sebagai teman yang baik dan rajin beribadah. Banding hadi juga aktif
mengikuti beberapa organisasi yang ada di Desa. Selain itu juga ia sering
mengikuti pelatihan-pelatihan public speaking
yang diselenggarakan oleh perangkat Desa.
Namun, ada yang aneh. Sesering apa apun Banding mengikuti
organisasi untuk bisa menyampaikan ide dan aspirasinya, hasilnya tetap saja
tidak diterima. Bahkan sampai mengikuti pelatihan public speaking pun ide yang
ia sampaikan tetap ditolak.
Sehingga, Banding merasa putus asa. Ia mulai muncul pertanyaan
dibenaknya. ”Bukannya saya anak organisasi dan sudah terbiasa berbicara di
depan umum? Sambil merenung dan mengevaluasi dirinya, Banding teringat
kejadian di waktu awal perkuliahan pada semester satu. Saat itu, Banding tidak
bisa menjawab pertanyaan saat presentasi kelompok dan saat itu pula ia mendapat
cacian dari teman-temannya setelah selesai perkuliahan.
“Gak suka baca buku ya. Gitu saja tidak bisa jawab!”
Perkataan itu tersaring ke dalam pikiran Banding, yang lantas
menganggap dirinya bukan orang yang suka membaca buku. Aku orang bodoh.
Tidak suka baca buku!. Berawal dari situlah, Banding menilai dirinya seperti
itu. Ucapan yang terdengar ditelinganya terus membayang-bayangi pikiran
Banding. Semangat dalam mengikuti organisasinya mulai menurun. Begitu juga
dengan pelatihan public speaking mulai jarang ia ikuti. Banding tidak pernah
melihat dirinya sebagai orang yang pandai berbicara dan memiliki ide yang
bagus, tapi sebagai orang yang tidak bisa apa-apa.
Cacian yang tertanam dalam pikirannya ini sangat berpengaruh pada
perkembangan dirinya. Walaupun terus berusaha memberanikan diri berbicara dan
latihan public speaking, citra diri yang tidak baik itu terus mengikuti Banding
dan membawa pada perasaan psimis, bukan pada optimis.
Quraish sihab pernah berkata: “Negara-negara bagian Eropa yang
saat ini maju dan berkembang pesat bisa dlihat dari bangunan budaya membaca
pada sepuluh tahun sebelumnya.” Ungkapan ini sebagai seruan yang mengajak
semua lapisan masayarakat untuk membudayakan baca. Karena kebiasaan membaca
suatu masyarakat di suatu negera berpengaruh besar terhadap kemajuan negera
tersebut.
Sama halnya dengan budayabaca pada diri sesorang juga berpengaruh
besar terhadap perubahan dan kemajuan dirinya. Salah satu penyebab kegagalan
yang sering dialami sesorang karena minimnya membaca. Sehingga tidak ada
letupan intelektual yang mendorongnya untuk melakukan perubahan. Jauh dari
kemajuan, seperti berjalan ditempat tanpa ada peningkatan.
Seperti pejalan kaki ada yang cepat dan ada yang lamban. Begitu
juga ada orang yang dengan santai berbicara di depan umum tanpa bantuan teks
dan ada pula yang berusaha keras belajar public speaking dan membaca berbagai
literature dengan harapan ada perubahan, namun tetap saja tidak ada
peningkatan. Ingat, belajar memanglah penting, tapi jangan lupa, tuhanlah yang
memberikan kelebihan tersebut.
Ada tipe orang yang tidak perlu lama-lama untuk melakukan dan
menguasai suatu bidang yang sedang ia pelajari atau ingin dikusai. Walaupun ia
belum pernah melakukan dan mempelajari sebelumnya selalu sesuai dengan yang
diaharapkan.
Namun, disisi lain ada orang yang belajar dengan sungguh-sungguh
untuk bisa melakukan dan menguasai suatu bidang tertentu, bahkan sampai ikut
les privat. Tapi, hasil akhir tidak pernah sesuai dengan yang diinginkan.
Bahkan tidak mencapai target minimal yang telah direncanakan. Atau bisa jadi ia
telah melewati beberapa langkah untuk mencapai target,
namun tetap saja ia bertemu dengan rasa putus asa.
Manusia kaya dengan berbagai potensi. Semua itu tergantung
bagaimana ia mengembangkannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah
memperkaya pengetahuan dengan membaca. Mengapa? Karena dengan membaca wawasan
lebih luas, pikiran akan lebih terasah dan lebih tajam jika sering difungsikan.
Begitu pula dengan diri sesorang akan lebih percaya diri jika memiliki
pengetahuan dan wawasan yang luas.
Your book show you sebagai
ungkapan tentang kapasitas diri seseorang dapat dilihat dari pengetahuan dan
wawasan yang dimilikinya. Jika
sesorang memiliki budaya baca yang cukup baik, maka yang nampak adalah
pengetahuan dan wawasan. Tapi jika sebaliknya, jarang membaca atau bahkan
hampir tidak pernah sama sekali, maka ia seperti orang yang sedang berada di
kegekapan. Tanpa arah dan tidak memiliki tujuan hidup.
Sama halnya dengan anak yang sekolah dari tingkat terendah sampai
perguruan tinggi pun tidak cukup bila tidak diiringi dengan membaca dan
berpikir. Maka dari itu, membaca sangat penting bagi orang yang ingin terus
berkembang.
Menurut hasil penelitian yang dipaparkan oleh Ajip Rosidi dalam
bukunya yang berjudul “pembinaan minat baca, Bahasa dan Sastra”dalam
kehidupan modern ini, pengetahuan yang diperoleh sesorang dari sekolahnya
selama kurang lebih enam belas (16) tahun, hanyalah kurang lebih lima belas
persen (15%) dari pengetahuan yang ia peroleh dan dikuasainya. Dengan kata
lain, delapan puluh lima persen (85%) lagi harus dicari di luar kelas dan
terutama melalui bacaan, baik berupa buku, majalah dan lain-lain.
Berkaca pada orang-orang yang telah sukses. Kapanpun dan dimanapun
ia berada, tentu ia akan selalu beriringan dengan minat baca yang tinggi. Jadi,
pencapaian dan kemajuan sesorang tidak akan terpisahkan dengan namanya budaya
membaca yang sudah membudaya. Begitu pun dengan kualitas sesorang sangat
ditentukan seberapa sering ia membaca dan berfikir. Tidak perlu menjelaskan
tentang kualitas diri anda pada orang lain, karena “your book show you”, pengetahuan
dan wawasan anda yang akan berbicara pada orang lain.
Berikut ini akan diulas beberapa keuntungan dari membaca yang bisa
anda dapatkan.
A.
Daya Ingat dan Konsentrasi
Kekuatan daya ingat dan konsentrasi sesorang memiliki hubungan erat
dengan kegiatan sehari-hari. Baik dari pola hidup atau pun kebiasaan rutin yang
dilakukan dalam hidupnya. Artinya sesorang harus memiliki kegiatan yang positif
agar daya ingat dan konsentrasinya bisa terjaga.
Banding pun juga demikian, kegiatan sehari-harinya sebagai
narahubung yang tugasnya menyampaikan informasi dari Balai Desa. Ia diberi
amanat untuk mensosialisasikan terkait agenda yang akan diselenggarakan pada
masyarakat.
Namun, program yang di agendakan tidak berlansgung lama. Masyarakat
protes karena tidak sesuai seperti waktu disosialisasikan. Bahkan banyak yang
pergi tanpa pemberitahuan pada petugas di Balai Desa. Masyarakat meninggalkan
kegiatan dengan wajah kesal dan marah pada Banding karena tidak sesuai yang
diharapkan masyarakat. Sehingga, masyarakat melakukan pengaduan pada kepala
desa selaku orang nomer satu di desa tersebut.
Beberapa jam kemudian setelah informasi itu tercium, pemanggilan
kepada dirinya pun tiba. Ia di minta untuk hadir ke Balai Desa. Dan saat itu
pula nasib buruk menghampiri dirinya. Perjalanan untuk meniti karir dari Balai
Desa terhenti. Pengaduan masyarakat berbuntut pemecatan pada dirinya dari
anggota perangkat desa.
Sebelum pemecatan terjadi, Banding diberikan beberapa pertanyaan
oleh kepala desa terakit agenda atau program yang sudah disusun. Dari beberapa
pertanyaan yang ada, jawaban Banding tidak sesuai dengan apa yang telah disusun
oleh perangkat desa. Dengan wajah kesal dan marah, kepala desa pun menyuruh dia
keluar dari ruangannya sambil berkata:
“Masih muda sudah pelupa, jangan mengada-ngada yang tidak ada di
agenda, biasakan baca.”
Dengan pikiran kacau, ia pulang dengan beberapa catatan yang
diingat dibenaknya. Kemudian ia tulis pada sebuah kertas beberapa sifat buruk
yang ada dalam dirinya. Sewaktu masih kerja, Banding suka meremehkan informasi,
hidupnya tidak teratur, males mikir dan tidak suka berbaur dengan anak desa.
Selanjutnya, ia kubur di pekarangan belakang rumahnya. Hal itu ia lakukan
dengan maksud membuang kebiasaan buruk dan tidak akan mengulanginya kembali.
Setalah itu, ia mulai menata diri kembali. Belajar menjadi orang
yang lebih produktif dengan membuat jadwal atau kegiatan sehari-hari. Salah
satu program yang ia utamakan dan perbanyak waktunya adalah membaca. Di mulai
dari membaca, ia yakin dapat memperbaiki daya ingat dan konsentrasinya.
Pribahasa “Semakin sering diasah, maka akan semakin tajam” Otak pun sama,
semkin sering digunakan, maka semakin kuat juga daya ingat dan konsentrasinya.
Sesorang yang sedang membaca pasti akan memusatkan perhatian dan pikirannya
pada isi buku tersebut untuk memahami inti dari yang dibaca.
Sebuah penelitian yang di publish oleh Jurnal Neurolgy membuktikan
bahwa sesorang yang memiliki kebiasaan baca beresiko lebih rendah untuk
mengalami kepikunan serta dapat memperkuat daya ingat dan tingkat konsentrasi.
Penyebab menurunnya daya ingat dan konsentrasi selain karena faktor
usia adalah lingkungan, gaya hidup dan minimnya baca. Ketiga ini juga menjadi
faktor menurunnya daya ingat dan konsentaasi. Pola makan tidak sehat, jam tidur
yang kurang, stress dan sejenisnya juga melemahkan daya ingat dan konsentrasi.
Jika daya ingat menurun, performa dan aktivitasnya pun akan terganggu.
Anda dapat meningkatkan daya ingat dan konsentrasi dengan cara; Mengasah
otak, otak yang sering digunakan akan berbeda dengan otak yang jarang di
asah. Jadi, mulailah dari sekarang untuk mengasah otak anda dengan sesuatu
membuat otak anda terus aktif. Misalnya rajin membaca buku, main teka-teki,
main catur dan lain-lain. Menjaga makanan. Tubuh membutuhkan asupan gizi
yang cukup agar otak tetap terjaga kemampuannya seperti mengkonsumsi sayuran
hijau dan lain-lain. Buatlah daftar atau menu harian yang berbeda-beda dan yang
sesuai dengan kebutuhan tubuh anda agar kinerja otak tetap terjaga dengan baik.
Membuat kegiatan harian.
Dengan menulis agenda harian akan membantu mengingatkan dimana, kapan dan
keman. Jika hal ini dilakukan setiap hari, maka akan lebih focus dan mudah
diingat. Oleh sebab itu, anda perlu membuat jadwal khusus harian agar hidup
anda lebih produktif. Menjaga kesehatan tubuh dengan berolahraga. Olah
raga sangat penting bagi anda, karena olahraga selain untuk menjaga daya ingat
yang lebih efektif, juga untuk menjaga daya tahan tubuh.
Istirahat yang cukup.
Ini perlu diperhatikan karena tidur berperan penting untuk menjaga daya ingat
dan konsentrasi. Sesorang yang kurang tidur biasanya otaknya tidak bisa
berfungsi dengan baik. Misal; ketika anda berbicara dengan orang yang sedang
mengantuk, maka apa pun yang anda bicarakan tidak akan bisa ia terima dengan
baik. Namun, jika lawan bicara anda tidak sedang dalam keadaan mengantuk, atau
sibuk dan lain sebagainya, maka pasti otaknya akan menerima dan mengolahnya
kembali.
Bersosialisasi dengan orang sekitar. Dengan aktif bersosialisasi akan membantu meningkatkan daya ingat
dan konsentrasi. Perbanyaklah mencari kawan, jangan mencari lawan. Dari
situlah, selain anda dapat meningkatkan ingatan dan konsentrasi, anda akan
mendapatkan banyak ilmu. Karena dari situ, akan muncul berbagai ide yang anda
temukan dari orang-orang sekitar anda.
Mengurus diri sendiri.
Cara ini dapat membantu otak tetap bekerja dan mengingat apa saja yang
diperlukan. Sesorang yang membiasakan diri untuk disiplin ia akan lebih
menghargai waktu. Waktu yang ada ia gunakan untuk mengurus dirinya. Misal
dengan mencari hiburan untuk menghilangkan rasa jenuh, penat, beban pikiran dan
lain sebagainya. Hal sangat perlu dilakukan untuk kebaikan diri anda. Dan yang
terakhir adalah Membaca. Selain menambah wawasan, membaca juga berfungsi
untuk mengasah otak sekaligus dapat meningkatkan daya ingat dan konsentrasi.
Your book show you adalah
bagian yang saling berhubungan dalam diri sesorang. Artinya, intelektual, daya
ingat dan konsentrasi selalu berkaitan. Jadi, orang yang memiliki intelektual
yang bagus akan nampak manakala ia dapat membuktikan. Begitu juga membuka
kembali pengetahuan yang telah ada sama dengan melatih ingatan dan konsentrasi.
B.
Mendorong Tujuan Hidup
Kebiasaan buruk yang ada tak lantas hilang
begitu saja dari benaknya. Ia harus melewati berbagai rintangan, rasa malas,
kantuk dan bosan terhadap kegiatan yang sedang ia jalani sering hadir setiap
saat, namun ia masih mampu melawan. Aktivitas di dalam dan luar rumah ia
perbanyak untuk membaca dan melakukan hal positif sampai tak ada waktu yang
terbuang.Dengan membaca dapat menyegarkan pikiran dan menyelamatkan waktu agar
tidak sia-sia dengan hal negatif
Ada sebagian orang yang menilai bahwa
mengerjakan sesuatu yang bukan kegemarannya akan cepat membosankan. Tapi jika
sesorang itu dapat melakukan sesuatu yang berharga dan masih berada pada
nilai-nilai yang dianggap benar sesuai kemampuannya, maka keadaan tersebut akan
berubah menjadi pekerjaan yang menyenangkan. Seperti yang diungkapkan oleh
seorang penulis asal Amerika.
Shakti Gawain adalah seorang pengarang yang
telah banyak menghasilkan buku. Buku yang telah ia hasilkan seperti Living in
the light, Developing Intuition dan masih banyak lagi. Mungkin tidak banyak
orang yang tahu. Namun, ada ungkapan
yang menarik dari bukunya; “Ketika kamu mengikuti energi positif dan melakukan
apa yang kamu inginkan sepanjang waktu, perbedaan antara bekerja dan bermain
akan hilang.”
Dari ungkapan tersebut, dapat diartikan bahwa
sesorang yang memiliki keinginan kuat untuk melakukan suatu perubahan, maka ia
akan merasakan hal itu. Artinya harus ada keinginan yang berangkat dari dalam
diri sesorang dan menikmati terhadap apa yang sedangkan dikerjakan. Sehingga
rasa bosan dapat disingkirkan.
Hal itu juga pernah diungkapkan oleh Belva
Davis kelahiran 1932 di Belvagene Melton, bahwa “Jangat takut pada ruang antara
mimpi dan kenyataan. Jika kamu bisa memimpikannya, maka kamu bisa membuatnya
begitu.”
Jika diresapi ungkapan tersebut, mimpi itu
sebagai sumber kekuatan sesorang. Jika sesorang bisa bermimpi, berarti ia juga
bisa membuatnya menjadi kenyataan. Seperti Banding yang mendapat teguran dari
tuhan dan ingin berubah. Keinginan tersebut ia tunaikan dengan sungguh-sungguh.
Alhasil, beberapa bulan kemudian sudah ada perubahan. Ia sudah terbiasa dengan
aktivitas yang membuatnya berkembang. Banding sudah merasa nyaman jika dekat
dengan buku dan hal-hal yang bermanfaat untuk dirinya. Ia tidak lagi berteman
dengan hal negative yang membuatnya tidak bisa bergerak maju untuk berubah.
Judy Belmont seorang psikoterapis asal Amerika
Serikat pernah berkata; “Anda tidak pernah terlalu tua untuk memulai kembali,
untuk mempelajari hal baru setiap hari, dan untuk membuat diri anda berakhir
bahagia.” Jadi, jika anda mengalami kegagalan, jangan berhenti. Teruslah
berusaha untuk mewujudkan agar hidup anda berakhir dengan bahagia.
Ketika anda mengalami berbagai macam hambatan,
maka cobalah untuk membaca buku. Di situ anda akan mendapatkan banyak motivasi
bagaimana cara menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, sehingga tujuan
hidup anda dapat terlaksana. Ketika berusaha untuk tahu karakter diri,
pengalaman dan segala kejadian yang seakan-akan itu sedang mengenai pada diri
anda, maka besar kemungkinan anda akan lebih cepat dalam mengambil keputusan.
Jika anda sudah memiliki keyakinan yang kuat
pada tujuan yang ingin anda capai, maka hal itu akan menjadi bara api yang
terus membakar semangat anda untuk menggapainya. Jadikanlah cita-cita anda
seperti api yang terus membakar. Karakter apai adalah membakar segala yang
kering dan mencairkan semua yang beku.
Sesorang yang ingin terus bangkit dan
bersemangat untuk mencapai cita-cita, maka jadikan cita-cita sebagai api yang
dapat membakar kapan pun. Jika hal itu pun masih belum berhasil, maka buatlah
suasana yang bisa menjadi pembakar semangat bagi diri anda. Belum berpengaruh juga, anda bisa membaca buku motivasi yang bisa
anda dapatkan dimana-mana dengan mudah.
Jika anda tidak dapat menjadi api karena semangat
yang sudah mulai memudar, maka dekatilah sumber api. Mendekati orang-orang yang
memiliki semangat, yang dapat memberikan inspirasi untuk terus maju. Oleh sebab
itu, perbanyaklah interaksi dengan banyak orang dan banyak pengalaman agar
tujuan hidup anda mudah tercapai.
C. Mencerdaskan IQ (Intelligent Quotient)
Intelleigent Quotients (IQ)
adalah kecerdasan yang diberikan tuhan pada manusia. Kecerdasan tersebut
digunakan untuk menalar, memahami suatu gagasan, memecahkan masalah serta
aktivitas lain yang berhubungan dengan logika.
Dengan bertambahnya usia, kematangan diri sesorang juga berpengaruh
pada peningkatan IQ-nya. Ditambah lagi dengan berbagai ilmu yang ia peroleh,
baik dari pendidikan dan lingkungan. Tentu hal ini akan membuat IQ sesorang
menjadi lebih baik.
Kembali lagi pada kisah Banding, ketika ia masih bekerja di balai
desa tidak sesuatu yang bisa ia dapat banggakan darinya, kecuali status
kepegawaian saja yang bisa ia bangga-banggakan. Ia tidak tidak banyak memiliki
keterampilan dan tidak tahu bakat apa yang terpendam dalam dirinya. Banding
tidak pernah ada keinginan untuk berubah dan melakukan hal baru. Misal
melakukan inovasi terbaru, baik untuk dirinya atau untuk masyarakat.
Namun setelah ia diberhentikan dari jabatan perangkat desa,
perubahan itu terus ia lakukan. Dari bukan hobi, menjadi hobi. Dari tidak suka
berhasil ia rubah menjadi kebutuhan yang harus penuhi. Dari pola hidup yang
tidak teratur, berhasil ia rubah menjadi orang yang lebih produktif. Cacian
dengan kata pelupa, ia berhasil mengganti kata itu dengan kata “ayo semangat”
hingga akhirnya diterima S2 di
salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia.
Pencapain tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Banding sering di anggap orang aneh karena sikapnya dan kebiasaan baru yang
tidak seperti biasanya. Termasuk kedua orang tua Banding, mereka bingung hingga
mencari tahu kenapa anaknya bisa berubah.
Sampai akhirnya kedua orang tua Banding tahu apa terjadi pada
dirinya. Beberapa hari setelah mengetahui info tersebut, orang tuanya bertanya,
“Nak, katanya kamu sudah diberhentikan oleh kepala desa, apa benar?”
“Iya buk, itu karena kesalahan saya tidak bisa menjalankan amanah
dengan baik.” Jawab banding dengan menundukkan kepala.
“Tidak apa-apa nak, semua orang pasti akan diuji oleh tuhan agar
bisa lebih dewasa dan berpikir mana yang baik dan mana yang buruk.”
Banding tidak membalas apa yang disampaikan ibunya. Ia hanya
mengangguk dan mendengarkan. Setelah itu, Banding meminta izin untuk
melanjutkan pendidikan S2 di salah satu perguruan tinggi negeri yang selama ini
di inginkan. Dengan wajah sumringah dan senang, ibunya memberi izin untuk
melanjutkan mimpinya.
Beberapa bulan kemudian, setelah melewati berbagai tahapan
penerimaan, akhirnya ia dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa yang
diselenggarakan oleh salah satu instansi. Dan ia juga diterima di perguruan
tinggi yang ia impikan selama ini.
Dari kisah tersebut, semua berawal dari kemauan sesorang untuk
melakukan perubahan. Keberhasilan tersebut butuh proses untuk mencapainya.
Perubahan dapat terjadi apabila sesorang bisa memiliki keyakinan yang kuat.
Kemudian diiringi dengan membaca berbagai informasi untuk menambah wawasan,
baik mengenai ilmu pengetahuan, social, politik, budaya, ekonomi dan lain-lain.
Sama halnya dengan yang dilakukan Banding, ia terus mencari, membaca dan
bertanya.
Hasil penelitian dari tim ilmuwan inggris mengatakan “orang yang
suka membaca mendapatkan skor IQ (intelligent quotients) yang lebih baik
dari pada orang tidak suka atau jarang membaca.” Artinya untuk mengubah masa
depan anda harus membaca. Dengan membaca anda akan menambah kecerdasan akal dan
pikiran.
Tidak sedikit anak muda yang gagal mencapai cita-citanya. Salah
satu penyebabnya adalah tidak adanya keterampilan, minimnya wawasan dan masih
banyak lagi. Ada juga yang memiliki background ilmu tertentu, tapi tidak
menguasai. Sehingga perasaan minder, tidak percaya diri dan lain-lain selalu
mengiringi dan akhirnya berujung pada kegagalan.
Jangan biarkan kecerdasan akal dan pikiran anda terpaku pada
rutinitas yang sama. Tapi cobalah untuk melakukan hal-hal baru agar pikiran
anda tidak membeku dan buntu. Kemudian hilangkan perasaan “aku tahu semua” dari
anda, tapi tanamkan “saya ingin tahu segala hal” di dalam diri anda.
Orang yang merasa dirinya sudah tahu tentang segala hal, akan
cenderung malas untuk membaca. Tapi, orang yang cerdas selalu ingin tahu
tentang segala hal. Sehingga tingkat kecerdasan orang yang suka membaca akan
lebih tinggi dari pada orang yang malas membaca.
Silahkan langsung dicoba kalau tidak percaya. Cekidot.!
D.
Rasa Empati Yang lebih
Suatu ketika, Banding melihat anak muda duduk di kantin kampus.
Sebut saja namanya Mr.x. Banding sering melihat ia bareng teman-temannya saat
jam istirahat. Ketika duduk bersama, Mr.x sering menjadi bahan olok-olokan dan
ia tidak pernah terlihat marah, malah ia membalas dengan senyuman sambil
membaca buku.
Saat itu, ada seorang pengemis yang meminta-minta pada mahasiswa.
Ia duduk di bawah menunggu uluran tangan orang-orang berpendidikan. Pengemis
itu terlihat lemas seperti sedang sakit-sakitan. Tiba-tiba Mr.X diam-diam
menghampiri sambil mengeluarkan makanan dan obat-obatan dari tasnya. Ia lakukan
secara berulang-ulang tanpa sepengetahuan teman-temannya.
Sehingga, orang yang ia tolong mulai sembuh dari penyakitnya.
Pengemis itu semakin jarang datang ke kantin untuk meminta minta pada mahasiswa
yang pada akhirnya ia tidak pernah terlihat kembali. Kenapa? Karena ia sudah
bekerja dan berhenti menjadi orang pengemis. Banding secara tidak sengaja
berjumpa dengannya di sebuah toko muslim dan posisinya sebagai karyawan.
Memiliki rasa simpati belum tentu punya rasa empati. Banding dan
Mr.X
berada pada satu tempat, tapi kepekaan untuk memahami orang lain berbeda.
Banding hanya muncul rasa kasihan tanpa kasi dan kagum terhadap apa yang telah
dilakukan Mr.X. Sedangkan Mr.x membantu pengemis tersebut secara langsung. Dalai
Lama mengatakan “Hidup di dunia ini adalah untuk saling membantu. Jika tidak
bisa membantu, setidaknya jangan menyakiti.”
Hubungan manusia yang tidak baik di dunia ini terjadi karena rasa
empati yang mulai pudar. Apatis dan selalu menganggap diri paling benar.
Terjebak pada “keakuan” yang selalu beranggapan bahwa dirinya paling benar
daripada orang lain. Begitu juga dengan tangan manusia yang rakus, tamak akan
selalu berada di bawah. Namun tangan yang bijak dan bersyukur pada nikmat tuhan
akan selalu berada di atas untuk
berbagi.
Jika ingin melenturkan hati anda, maka biasakan membaca. Karena
disana banyak pelajaran penting agar hidup anda lebih bermakna. Bagaimana
seharusnya bersikap, bertindak dan peka terhadap masalah yanga ada di
sekitarnya. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana anda membantu dan menolong
orang-orang yang sedang kesusahan.
Selain itu, untuk meningkatkan rasa empati bisa dengan membaca
literature klasik. Karena literature klasik lebih cepat dalam meningkatkan rasa
empati dari pada literature modern. Tapi pada hakikatnya semua literature itu
bagus, tergantung bagaimana anda bisa mencerna dan mengambil pelajaran dari
buku yang anda baca.
Kemudian membaca buku yang berisikan tentang perjalanan hidup
sesorang juga akan menambah empati pembacanya dan merupakan cara meningkatkan
akhlak. Sesorang akan menjadi lebih peka terhadap orang lain karena wawasan
yang lebih luas.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh New York University “membaca
buku dapat meningkatkan kemampuan untuk lebih memahami perasaan orang lain,
sehingga dapat meningkatkan kualitas hubungan yang lebih baik dengan orang
disekitarnya.”
Hati manusia itu ibarat kanibu. Apabila jarang menyentuh air, maka
pasti akan mengeras. Begitu juga hati anda, jarang disiram dengan ilmu melalui
membaca, maka semakin keras pula hatinya. Akan tetapi, bila hati anda semakin
sering disiram dengan ilmu, maka semakin lentur pula hatinya. Jika hati lentur,
maka rasa empati juga bertambah dalam diri anda. Karena empati merupakan
emosional sesorang yang memiliki hubungan erat dengan hati.
Jadi, siapapun dan apapun jabatan anda, cobalah untuk selalu
menghadirkan rasa empati dengan bentuk tindakan nyata agar hidup lebih bermakna
dan bermanfaat. Jangan biarkan hidup anda berkurang tanpa makna, berkurang
tanpa manfaat dan mati tanpa meninggalkan jejak amal jariyah di dunia.
Amal baik anda akan terus mengalir dari dunia sampai kembali kepada
tuhan. Yakinlah, bahwa kebaikan yang anda lakukan pada orang lain akan
terbalaskan pada diri anda. Jika tidak di dunia mungkin nanti di akhirat.
Jadi ringankalah tangan anda untuk membantu orang yang sedang
kesusahan dengan bentuk materi. Jika demikian belum bisa, maka ringankanlah
perasaan anda untuk memberikan dukungan moril atau suport. Jika belum mampu
juga, maka ringankanlah hati, bibir dan tangan anda untuk mendoakannya.
Males membaca berarti anda menghilangkan dua kebaikan (waktu dan
kesempatan) sekaligus mempercepat kegagalan dalam hidup. Namun, jika anda
meluangkan waktu satu kali untuk membaca, sama dengan anda mengurangi satu
keburukan dan mendatangkan kebaikan.
